KabarPewarta.com, Medan. Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sorik Merapi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, bukan sekedar menghadirkan listrik bagi masyarakat. Lebih dari itu, proyek energi bersih ini perlahan menggerakkan roda ekonomi lokal dan memperkuat sektor pertanian rakyat.
Sejak unit pertama PLTP Sorik Merapi beroperasi, pasokan listrik di wilayah selatan Sumatera Utara menjadi lebih stabil. Sebelumnya, warga kerap mengalami pemadaman bergilir, yang menghambat aktivitas ekonomi dan pertanian. Kini, dengan suplai listrik yang lancar, mesin penggilingan padi, pendingin ikan, dan peralatan pertanian modern dapat digunakan kapan saja tanpa khawatir kehabisan daya. PLTP Sorik Marapi dengan total kapasitas yang terus berkembang (saat ini mencapai 200 MW dari Unit 1 hingga Unit 5) telah menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang dirasakan langsung oleh warga Madina, khususnya di Kecamatan Puncak Sorik Marapi.
Di desa-desa sekitar seperti Sibanggor Julu dan Sibanggor Tonga, petani mulai merasakan perubahan nyata. Listrik dari Sorik Merapi digunakan untuk menggerakkan pompa irigasi, menyalakan alat pengering jagung dan kopi, serta lampu penerangan malam di kebun hortikultura. Dengan listrik yang stabil, mereka tidak lagi bergantung pada bahan bakar minyak untuk pompa air atau pengering hasil panen, sehingga biaya operasional pertanian turun hingga 30–40 persen. Proyek geotermal ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Mulai dari tenaga kontruksi, operator logistik, hingga pekerja kebun yang mendukung area proyek. Selain itu, muncul usaha baru di kawasan sekitar pembangkit listrik seperti warung makan, rumah kos, hingga jasa transportasi lokal. Memutar uang di desa-desa penyangga meningkat, menumbuhkan ekonomi masyarakat akar rumput. Menariknya, PLTP Sorik Merapi beroperasi dengan prinsip energi hijau tanpa asap tebal, tanpa limbah berbahaya.

Limbah panas bumi (udara panas sisa produksi) diserap kembali ke dalam tanah melalui sistem re-injeks PLTP Sorik Marapi dengan total kapasitas yang terus berkembang (saat ini mencapai 200 MW dari Unit 1 hingga Unit 5) telah menciptakan efek berganda (multiplier effect ) yang dirasakan langsung oleh warga Madina, khususnya di Kecamatan Puncak Sorik Marapi.
Dengan kapasitas yang mencapai 240 megawatt, Sorik Merapi diharapkan mampu menopang listrik industri kecil menengah dan memperluas jaringan pertanian modern di seluruh Mandailing Natal. Bagi masyarakat, panas bumi bukan lagi sekadar proyek besar, melainkan sumber kehidupan baru yang mencakup desa, menggerakkan ekonomi, dan menumbuhkan pertanian.KabarPewarta/Cmth
