Logo
Saat Alam Meluapkan Amarahnya,  Meninggalkan Jejak Amuk Kayu dan Lumpur di Aceh Tamiang

KabarPewarta.com, Aceh Tamiang. 30 Desember 2025Langit di atas Bumi Muda Sedia mungkin telah kembali cerah, namun pemandangan di bawahnya menyisakan potret kehancuran yang sulit dilupakan. Jejak-jejak lumpur setinggi dada orang dewasa, tumpukan kayu gelondongan yang berserakan, hingga kendaraan yang terlempar ke tempat-tempat tak terduga menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya terjangan banjir bandang yang menghantam Aceh Tamiang baru-baru ini.

Banjir ini bukan sekadar genangan air biasa ia adalah arus deras yang membawa material sisa hutan, menghancurkan infrastruktur, dan merenggut kenyamanan ribuan jiwa dalam sekejap mata.

Sebuah buku rapor sekolah milik seorang siswa bernama Nafis Sakha Pratama tergeletak di tengah genangan lumpur pekat. Lembar demi lembar yang seharusnya berisi catatan prestasi dan harapan masa depan itu kini nyaris tak terbaca, tertutup kerak tanah liat yang mengering.

Saat prestasi merupakan kebanggaan orangtua dan siswa yang dituangkan didalam raport, akan tetapi itu tidaklah lebih penting daripada untuk menyelamatkan diri. Yang akhir dari penyelamatan dirinya hanyalah tinggal kenangan.

Buku rapor ini menjadi simbol betapa besarnya dampak bencana terhadap sektor pendidikan. Bukan hanya bangunan sekolah yang rusak, namun instrumen masa depan anak-anak Aceh Tamiang ikut terendam dan hancur bersama harta benda lainnya.

Salah satu fenomena paling mengerikan dari banjir bandang ini adalah kekuatannya yang mampu memindahkan benda-benda berat. Di sebuah area pemakaman, sebuah mobil Toyota Avanza putih ditemukan bertengger di atas deretan nisan. Arus air yang luar biasa kuat mengangkat mobil tersebut dari jalanan dan menghempaskannya ke tengah kuburan, menjadikannya pemandangan yang surealis sekaligus menyedihkan.

Tak jauh dari situ, nisan-nisan tua termasuk makam almarhumah Saodah Binti Parimin tampak rusak dan tertutup sampah material banjir. Kedamaian di "rumah terakhir" para penduduk ini terusik oleh air yang meluap, menyisakan nisan yang miring dan lubang-lubang makam yang terisi lumpur. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan banjir bandang ini mampu menjangkau dan merusak area yang biasanya dianggap paling aman dan sakral.

Daya rusak air juga terlihat jelas pada kendaraan-kendaraan besar. Di sebuah area terbuka, dua buah truk tangki pengangkut minyak tampak dalam posisi yang mustahil. Satu truk terangkat bagian depannya, bertumpu pada bak truk lainnya yang juga sudah miring. Berat truk yang mencapai belasan ton seolah tidak berarti di hadapan tekanan air bandang yang membawa material padat.

Di sudut lain, sebuah mobil pribadi ditemukan terbalik secara vertikal, terjepit di antara dinding rumah dan puing-puing bangunan. Posisinya yang tegak lurus menunjukkan bahwa air tidak sekadar mengalir, melainkan berputar dan menghantam dengan pola turbulensi yang sangat merusak.

Mungkin potret yang paling mencengangkan adalah kondisi di sekitar Pondok Pesantren (Dayah) Darul Mukhlisin. Halaman pesantren yang biasanya menjadi tempat santri menimba ilmu kini berubah menjadi lautan kayu. Ribuan batang kayu gelondongan, dahan pohon, dan akar-akar raksasa memenuhi seluruh permukaan tanah hingga menutupi sebagian bangunan.

Keberadaan kayu-kayu hutan ini memicu pertanyaan besar mengenai kondisi hutan di hulu sungai Aceh Tamiang. Kehadiran material kayu dalam jumlah masif inilah yang memperparah daya hancur banjir, mengubah aliran air menjadi proyektil yang mampu merobohkan apa pun di jalannya. Masjid dengan kubah birunya yang megah kini berdiri di tengah hamparan sampah kayu, kontras dengan keindahan arsitekturnya.

Bagi warga, rumah yang mereka bangun bertahun-tahun kini hanya menyisakan kerangka dan tumpukan barang yang tak lagi berguna.

  • Interior yang Berantakan: Di sebuah rumah permanen, kursi-kursi sofa yang sebelumnya berada di ruang tamu, kini terdampar di halaman yang masih tergenang air keruh. Televisi tabung dan peralatan dapur hancur berserakan di dalam lumpur.
  • Rumah Kayu yang Roboh: Rumah-rumah warga yang terbuat dari kayu mengalami nasib lebih buruk. Banyak yang roboh total atau miring secara ekstrem karena pondasinya tergerus oleh air dan pasir. Lumpur setinggi jendela masih memenuhi bagian dalam rumah, membuat proses evakuasi dan pembersihan menjadi tugas yang nyaris mustahil dilakukan dalam waktu singkat.

Jejak banjir bandang di Aceh Tamiang ini adalah pengingat keras bagi semua pihak. Kehancuran yang terekam—mulai dari rapor siswa yang berlumpur hingga truk yang terjungkal—menunjukkan bahwa pemulihan tidak akan bisa dilakukan dalam satu atau dua bulan saja.

Dibutuhkan upaya kolaboratif untuk membersihkan jutaan meter kubik lumpur dan sampah kayu, serta yang lebih penting, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan lingkungan di wilayah hulu. Warga Aceh Tamiang kini hanya bisa menatap puing-puing kehidupan mereka, sembari berharap bahwa bencana serupa tidak akan kembali menyapa di masa depan.Kabar Pewarta/CMTH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *