KabarPewarta.com, MedanDi sejumlah wilayah terpencil Indonesia, keterbatasan pasokan listrik selama ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Namun kini, langkah konkret mulai terlihat. Melalui pemasangan panel surya di sekolah-sekolah pelosok, pemerintah bersama sektor swasta berupaya menghadirkan energi bersih yang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar secara berkelanjutan.
Sebelum hadirnya panel surya, banyak sekolah di daerah pedalaman hanya mengandalkan cahaya alami. Aktivitas belajar berhenti lebih awal, dan kegiatan tambahan seperti belajar malam atau pelatihan digital sulit dilakukan. Kini, dengan sistem tenaga surya berkapasitas rata-rata 1.500 watt per sekolah, ruang-ruang kelas di pedesaan dapat digunakan hingga malam hari. Guru dapat memanfaatkan perangkat elektronik, sementara siswa bisa mengakses media pembelajaran berbasis teknologi.

Sekolah-sekolah di daerah terpencil kini memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang seperti di perkotaan. Listrik yang dihasilkan oleh panel surya adalah energi baru terbarukan. Pemasangan panel surya di sekolah terpencil merupakan bagian dari program nasional energi bersih yang menargetkan 30% bauran energi terbarukan pada tahun 2030. Program ini dikelola melalui kerja sama antara pemerintah, PLN, dan sejumlah lembaga non-pemerintah yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat pedesaan. Pendanaan berasal dari kombinasi anggaran energi berkelanjutan, bantuan internasional, serta kontribusi CSR perusahaan nasional.
Manfaat dari proyek ini tidak berhenti di sekolah saja. Listrik tenaga surya juga mendukung fasilitas pendukung pendidikan seperti laboratorium mini, ruang komputer, serta pompa air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Di beberapa lokasi, energi yang dihasilkan bahkan digunakan untuk menerangi rumah dinas guru dan balai pertemuan warga, menciptakan pusat aktivitas baru di desa. Kehadiran listrik dari panel surya turut meningkatkan motivasi belajar siswa, serta memberi ruang bagi pelatihan keterampilan digital dan inovasi pembelajaran berbasis teknologi.

Meskipun membawa dampak positif, proyek ini masih menghadapi sejumlah kendala. Medan geografis yang sulit dijangkau, curah hujan tinggi, serta keterbatasan teknisi lokal menjadi hambatan dalam perawatan peralatan. Sebagai solusi, pemerintah mulai mengembangkan pelatihan energi desa, di mana pemuda setempat dilatih untuk menjadi operator dan teknisi panel surya mandiri. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru sekaligus menjaga keberlanjutan sistem listrik tenaga surya di masa depan.
Sejak awal 2023, lebih dari 400 sekolah di wilayah Indonesia bagian timur dan tengah telah menerima bantuan sistem panel surya. Targetnya, hingga tahun 2026, program ini akan menjangkau seribu lokasi pendidikan terpencil di seluruh nusantara. Dengan hadirnya energi bersih, anak-anak di pelosok kini bisa belajar tanpa batas waktu, mengerjakan tugas dengan nyaman, dan bermimpi lebih tinggi di bawah sinar lampu tenaga matahari.KabarPewarta/Cmth
