KabarPewarta.com, Bener Meriah. 22 Desember 2025, Deru mesin alat yang beradu dengan batu menjadi latar suara di kaki perbukitan Gunung Salak, Kabupaten Bener Meriah pekan ini. Di tengah sisa-sisa lumpur yang masih basah dan tumpukan material vulkanis, puluhan personel aparat pemerintah terlihat bekerja tanpa kenal lelah. Fokus mereka hanya satu membuka kembali urat nadi transportasi yang terputus total akibat terjangan banjir bandang dahsyat yang melanda kawasan tersebut pada penghujung tahun 2025
Bencana banjir bandang yang ekstrem selama beberapa hari terakhir telah menyebabkan beberapa titik jalan lintas utama dan antardesa mengalami kerusakan parah. Di salah satu lokasi terdalam, badan jalan sepanjang ratusan meter hilang tersapu luapan air sungai yang membawa material kayu dan batu besar. Akibatnya, beberapa dusun sempat terisolasi, menghambat distribusi bantuan logistik dan evakuasi warga yang membutuhkan layanan kesehatan. . Ada 5 Titik jalan yang terputus akibat banjir bandang yaitu berada di desa Kampung kem dan Payapasir. Jalan terputus tersebut diakibat dari longsornya tebing dan juga ada bahu jalan hancur dibuat banjir bandang

Sejak fajar menyingsing, Aparat pemerintah mulai dari Basarnas, TNI, dan warga Bener Meriah sudah berada di lokasi. Kondisi lapangan sangat menantang tanah yang labil dan ancaman longsor susulan menjadi risiko yang harus mereka hadapi setiap saat. Tanpa memedulikan seragam yang kini berwarna cokelat pekat karena lumpur, para personel ini bekerja secara manual maupun dengan bantuan alat berat untuk menyingkirkan batang-batang pohon raksasa yang melintang di jalur utama.
“Prioritas utama kami adalah memastikan kendaraan roda empat, terutama truk pengangkut bantuan, bisa segera melintas," ujar Letda CZI M. Farhan dari Yon zikon 14/Sws, salah satu perwira lapangan di lokasi. Menurutnya, pemulihan akses ini sangat krusial karena tanpa jalan yang memadai, upaya pemulihan pascabencana di titik-titik terdampak lainnya akan berjalan sangat lambat.
Letda CZI M. Farhan dari Yon zikon 14/Sws Mengatakan “juga bahwa didalam melakukan perbaikan infrastruktur mereka mempunyai banyak kendala yaitu :
- Cuaca buruk
- Curah Hujan cukup tinggi
- Lalu lintas masyarakat didalam mendapatkan membeli sembako, gas dan bensin di kampung kem dari bener meriah cukup padat.
TNI yang berada di Bener meriah ini berasal dari YON Zikon 13 dab Zikon 14 men zikon Pusziad TNI AD jakarta. Mereka membangun dan membuat jembatan baru dan pelaksanaannya sudah 1 minggu. Perkiraan jembatan selesai adalah 10 Hari kedepan”.
Pekerjaan ini bukan sekadar menyingkirkan puing. Di beberapa titik, para tentara harus membangun jembatan darurat dari batang pohon dan material sisa yang masih layak guna agar motor dapat melintas terlebih dahulu. Mereka juga melakukan pengerasan jalan secara darurat menggunakan sirtu (pasir batu) untuk menutup lubang-lubang raksasa yang terbentuk akibat gerusan air bah.

Di sela-sela kesibukan tersebut, terlihat kebersamaan yang kuat antara personel TNI dan masyarakat setempat, Aparat Pemerintah memberikan hiburan ataupun bercengkrama dengan warga pejuang sembako. Warga yang masih memiliki tenaga sisa turut membantu sebisanya, mulai dari menyediakan air minum hingga membantu mengarahkan alat berat di tikungan-tikungan tajam yang rawan. Semangat gotong royong ini menjadi bahan bakar utama di tengah kelelahan fisik yang mendera para petugas di lapangan.
Seorang warga setempat mengungkapkan rasa syukurnya atas gerak cepat para tentara. Menurutnya, sebelum kehadiran tim evakuasi dan perbaikan jalan, warga merasa putus asa karena akses menuju pusat pasar dan puskesmas tertutup total oleh tumpukan material setinggi dua meter. Kini, dengan progres yang ditunjukkan setiap jamnya, harapan mulai kembali tumbuh.
Warga setempat menyaksikan langsung kerja keras para tentara yang tanpa mengenal lelah menghadapi cuaca tidak menentu. Hujan yang masih kerap turun membuat risiko longsor susulan tetap tinggi. Meski demikian, pengerjaan jalan tetap dilanjutkan dengan pengawasan ketat untuk menghindari kecelakaan kerja. Setiap langkah dilakukan dengan perhitungan agar proses pemulihan berjalan cepat namun tetap aman.
Meski cuaca di Bener Meriah masih sering berubah-ubah dengan mendung yang menggantung pekat, pengerjaan jalan terus dipacu. Targetnya, dalam beberapa hari ke depan, jalur utama yang menghubungkan pusat kabupaten dengan wilayah-wilayah terpencil dapat kembali fungsional, setidaknya untuk jalur darurat.

Kegigihan aparat pemerintah di lapangan menjadi bukti nyata dedikasi dalam menghadapi bencana alam. Di bawah bayang-bayang pegunungan Bener Meriah, mereka terus mengayunkan cangkul dan mengoperasikan ekskavator, memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang tertinggal dalam isolasi pasca-bencana. Jalan yang semula hilang ditelan banjir, kini perlahan mulai terbentuk kembali, menjadi simbol bangkitnya semangat masyarakat Bener Meriah dari ujian bencana. Kabar Pewarta/CMTH
