Logo
Hebatnya Engkau Banjir Bandang Menerjang Aceh Tamiang

KabarPewarta.com, Aceh Tamiang. Peristiwa alam yang dahsyat melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Aceh Tamiang dalam kurun 48 jam terakhir, menyusul curah hujan ekstrem di kawasan hulu dan pegunungan. Banjir bandang yang terjadi telah menimbulkan dampak signifikan terhadap infrastruktur, perekonomian, dan kehidupan masyarakat di setidaknya delapan kecamatan.

Tingginya intensitas air bah, yang puncaknya terjadi pada Minggu malam, menyebabkan meluapnya tiga sungai utama yang melintasi kabupaten ini. Ketinggian air dilaporkan mencapai 3 meter di beberapa titik terendah di Kecamatan kejuruan Muda dan Rantau, Desa Sei liput, karang baru dan bendahara memaksa dilakukannya evakuasi massal.

Ruas jalan nasional yang menghubungkan Aceh dan Sumatera Utara, khususnya di kawasan Kuala Simpang, lumpuh total selama lebih dari 12 jam. Kendaraan berukuran kecil tidak dapat melintas, dan antrean panjang kendaraan berat mencapai lebih dari 5 kilometer. Kerusakan terparah dialami oleh dua jembatan penghubung desa di Kecamatan Tamiang Hilir yang ambruk diterjang derasnya arus.

Lebih dari 15 unit sekolah dasar dan menengah terendam hingga setinggi pinggang orang dewasa, menyebabkan kerugian besar pada sarana belajar dan dokumen penting. Sejumlah fasilitas kesehatan di tingkat desa juga terdampak, mengganggu layanan medis.

Data sementara dari posko bencana menyebutkan setidaknya 2.000 rumah terendam, dengan sekitar 500 di antaranya mengalami kerusakan berat, terutama di bagian dapur dan pondasi akibat gempuran material lumpur dan kayu gelondongan yang terbawa arus dari kawasan hulu.

Banjir bandang ini memberikan pukulan telak bagi sektor ekonomi utama kabupaten, yaitu pertanian dan perkebunan. Ribuan hektare lahan persawahan yang baru memasuki masa tanam di Kecamatan Banda Mulia dan Manyak Payed dipastikan gagal panen karena terendam lumpur. Lahan perkebunan kelapa sawit dan karet di sepanjang bantaran sungai juga mengalami kerusakan parah, dengan kerugian ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Ratusan ternak, meliputi sapi dan kambing, dilaporkan hanyut terbawa arus. Masyarakat mengalami kesulitan untuk menyelamatkan aset peternakan mereka di tengah terbatasnya waktu evakuasi.

Pemerintah daerah bersama dengan tim gabungan TNI/Polri, BPBD, dan relawan setempat bergerak cepat mendirikan posko pengungsian terpusat. Lebih dari 10.000 jiwa telah dievakuasi ke tempat-tempat yang lebih aman, seperti masjid, gedung serbaguna, dan kantor pemerintahan yang tidak terendam.

Kebutuhan paling mendesak di lokasi pengungsian adalah air bersih, makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan. Stok logistik dilaporkan menipis, dan penyalurannya terkendala akses jalan yang terputus.

Otoritas kesehatan telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi wabah penyakit pascabanjir, seperti diare dan penyakit kulit, seiring dengan surutnya air dan munculnya genangan.

Kondisi Aceh Tamiang  terutama desa Lintang yang saat ini masih memerlukan alat berat untuk memperbaiki akses jalan dan mengangkat bangkai hewan ternak yang masih berserakan di desa ini. Kabar Pewarta/Cmth

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *