Logo
Jenny, Menembus Bencana Demi Ayahnya: Kisah Haru dari Lumpur Aceh Tamiang

KabarPewarta.com, Aceh Tamiang - Di tengah lumpuhnya komunikasi, akses transportasi, dan teriakan duka akibat banjir bandang dahsyat yang menerjang Aceh Tamiang pada Rabu, 26 November 2025, seorang gadis muda bernama Jenny menunjukkan keberanian yang melampaui rasa takut. Kampung halamannya di Kuala Simpang porak-poranda, listrik padam total, dan semua jalur komunikasi terputus. Pada 27 November, kontak terakhir dengan sang ayah hilang. Sejak saat itu, hatinya tak pernah tenang.

Tak ingin hanya menunggu keajaiban, perempuan berani itu akhirnya nekat pulang dari Medan ke Kuala Simpang pada 2 Desember 2025, menembus daerah bencana demi satu tujuan: menyelamatkan ayahnya yang tak bisa lagi dihubungi.

Perjalanan itu bukanlah perjalanan biasa. Jenny dan abang iparnya berangkat menuju Pangkalan Susu, namun akses darat masih tertutup lumpur dan reruntuhan. Mobil pribadi tak bisa lewat. Dengan sisa harapan, mereka memutuskan untuk naik boat dari Pelabuhan Pangkalan Susu menuju Salahaji—membawa banyak sembako untuk keluarga dan warga yang membutuhkan.

Berbagai cibiran dan kekhawatiran menghadang mereka di pelabuhan.

“Nanti kalian dijarah.”
“Percuma kalian bawa sembako, nggak akan sampai.”
“Ngapain susah-susah? Belum sampai sudah dijarah.”

Meski suara-suara itu menakutkan, Jenny berdiri teguh.

“Bisa nggak bisa, saya tetap akan bawa! Saudara-saudara kita butuh sembako ini!” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Dengan hati berdebar, mereka menumpang boat dalam perjalanan dua jam yang sunyi dan menegangkan. Hujan turun di tengah perjalanan, angin menggulung permukaan air, membuat Jenny yang sebenarnya takut naik boat itu terus berdoa dalam hati agar mereka selamat dan bantuan yang dibawa tiba di tangan yang tepat.

Pukul 17:15 WIB, boat akhirnya mendarat di Salahaji. Transportasi darat tersedia, namun tidak cukup aman. Beruntung, ada seorang dermawan bernama Huise yang mengulurkan tangan, menyediakan truk untuk menjemput dan mengantar mereka hingga ke Kuala Simpang.

Pukul 19:30 WIB, mereka menumpang truk menuju kota yang penuh kenangan bagi Jenny. Namun pemandangan di depan justru memukul perasaannya tanpa ampun. Kampung halamannya tampak seperti kota mati—gelap, penuh lumpur, rumah-rumah hancur terseret arus. Air mata Jenny tak tertahankan. Setiap sudut jalan adalah luka.

Kondisi Kuala Simpang yang porak poranda diterjang banjir bandang.

Setibanya di Kuala Simpang sekitar pukul 21:00 WIB, mereka menurunkan sembako untuk dibagikan kepada warga. Di tengah kelelahan, kabar mengejutkan datang. Seorang teman mengabari bahwa ayahnya ternyata sedang mengungsi di sebuah rumah dan dalam keadaan baik.

Pukul 21:30 WIB, meski tubuh mulai goyah dan tangan Jenny terluka terkena pecahan kaca, ia tetap berjalan kaki bersama abang iparnya menuju rumah tempat ayahnya mengungsi. Setiap langkah terasa berat, namun keinginannya untuk memastikan sang ayah selamat jauh lebih besar daripada rasa sakit.

Kondisi rumah porak poranda dihantam banjir bandang.

Dan ketika pintu rumah itu terbuka, perjuangannya terbayar lunas. Jenny memeluk ayahnya erat—pelukan yang penuh tangis, kelegaan, dan syukur. Semua ketakutan, luka, dan perjalanan panjang itu terbayar hanya dengan melihat ayahnya selamat.

Sang ayah yang memiliki semangat tinggi untuk bangkit kembali.

Saya tidak akan pernah lupa kebaikan orang yang menolong ayah saya dan menerima beliau mengungsi di rumahnya,” ujarnya dengan suara bergetar.

Di balik reruntuhan Aceh Tamiang, kisah Jenny menjadi pengingat bahwa di tengah bencana sebesar apa pun, cinta dan keberanian seorang anak dapat menembus segala halangan—bahkan di antara lumpur, badai, dan ketidakpastian. Kabar Pewarta/Kusuma W.

j

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *